Bangladesh Resah! Harga Minyak Sawit Terus Melonjak Gara-Gara Kebijakan Indonesia
Indonesia berencana menaikkan bea ekspor minyak sawit mentah dari 7,5% menjadi 10% pada September ini, hal tersebut berdampak ke banyak sektor di Bangladesh. (Foto Internet)
SAWITNEWS.CO – Permintaan crude palm oil (CPO) dunia didorong oleh populasi global yang meningkat, kebutuhan akan minyak nabati untuk makanan dan bioenergi, serta pertumbuhan ekonomi di pasar negara berkembang seperti Asia, salah satunya Bangladesh.
Bangladesh adalah sebuah negara di Asia Selatan yang terletak di delta sungai Gangga dan Brahmaputra, berbatasan dengan India dan Myanmar di sebelah utara, timur, dan barat, serta Teluk Benggala di selatan. Negara ini merupakan salah satu negara terpadat di dunia dan mayoritas penduduknya beragama Islam etnis Bengali.
Bangladesh juga salah satu negara yang mengkhawatirkan kenaikan bea keluar CPO Indonesia yang akan berjalan pada September ini.
Indonesia berencana menaikkan bea ekspor minyak sawit mentah dari 7,5% menjadi 10%, dan produk olahan sebesar 9,5% pada September ini sebagai imbas dari harga CPO global.
“Sebagian besar minyak sawit Bangladeh dipasok dari Indonesia. Sekarang, harga global sudah bereaksi dan berdampak harga di dalam negeri. Kami mengeluarkan biaya tambahan 100–125 Tk (red-mata uang Bangladesh) per ton hanya untuk memastikan produk siap dipasarkan. Kami sudah memberi tahu pemerintah,” urai Mohammad Shafiul Atahar Taslim, Direktur importir minyak nabati TK Group kepada The Business Standard.
Permintaan produk sawit Bangladesh mencapai 2 juta – 2,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tadi, dengan 65% di antaranya adalah minyak sawit, yang sebagian besar digunakan oleh toko roti, produsen kue, dan pabrik makanan.
Sekitar 80% minyak sawit impor Bangladesh berasal dari Indonesia, sehingga setiap perubahan kebijakan di negara tersebut akan berdampak signifikan terhadap pasar lokal dan negara berkembang lainnya.
Program mandatori biodiesel B40 yang dijalankan Indonesia sejak 2025 menetapkan kuota biodiesel sebesar 15,6 juta kiloliter, meningkat 20% dari 12,98 juta kiloliter pada tahun 2024 dalam program B35.
Dampaknya, harga minyak sawit global telah meningkat sebesar 5,4% dibandingkan dengan tahun 2024.
Merujuk data Bank Dunia dan Chicago Board of Trade (CBOT), antara April dan Juni tahun ini, harga minyak sawit global stabil atau menurun. Pada bulan April, harga FOB (free on board) per ton adalah $994. Namun pada bulan Juli, harganya melampaui $1.000 per ton.
Pasar grosir Khatunganj, salah satu pusat perdagangan komoditas utama negara ini, memiliki harga grosir per maund minyak sawit saat ini sebesar Tk5.800–5.850; naik dari Tk5.700–5.750 sebulan yang lalu. Minyak sawit super, bentuk olahan yang dapat dimakan, dari Tk5.900 menjadi Tk6.000. Minyak kedelai sekarang dijual seharga Tk6.550, naik dari Tk6.400–6.450 sebulan yang lalu.
Golam Mawla, President of the Bangladesh Wholesale Edible Oil Traders Association, mengatakan saat ini dengan sedikit keuntungan di atas harga yang dibebankan importir kepada kami. Tidak ada kendali pemerintah yang nyata di tingkat grosir. Bahkan ketika harga pemesanan global turun, harga eceran lokal tidak berubah kecuali disesuaikan oleh pemerintah.
“Sekarang dengan harga pemesanan yang kembali naik, kita akan melihat kenaikan harga baru. Karena minyak sawit banyak digunakan di sini, kenaikan harga memengaruhi banyak sektor,” pungkasnya. (MNA/SP)













