Biodiesel Bukan Sekadar Energi, Tapi Jalan Selamatkan Harga CPO
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Yuliot Tanjung. (Dok Kementerian ESDM)
SAWITNEWS.CO – Berbagi langkah terus dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga harga crude palm oil (CPO) di dalam negeri agar tidak turun. Hal ini karena dapat mempengaruhi harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Salah satu caranya yakni dengan program biodiesel yang saat ini sudah mencapai B40 atau 40% menggunakan sawit, dan rencananya akan ditingkakan menjadi B50 di tahun 2026.
“Ini (program biodiesel) merupakan bagian kebijakan yang secara nasional jadi menguntungkan dan ada stabilitas untuk harga CPO,” ucap Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Yuliot Tanjung, di Jakarta.
Lebih lanjut Yuliot mengungkapkan bahwa saat ini terdapat indikasi oversupply crude palm oil (CPO) atau stok CPO yang berlebih di dalam negeri. Selain itu, secara global, lanjut dia, harga CPO juga akan mengalami penurunan.
Apabila harga CPO mengalami penurunan,maka petani sawit sebagai pihak yang paling terdampak. ”Jadi, ini yang perlu kita jaga kebijakannya,” ucap Yuliot.
Sebelumnya, Direktur Bioenergi di Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Edi Wibowo mengutarakan pentingnya pengembangan biodiesel yang berkelanjutan, termasuk rencana menuju implementasi B100 di masa depan. Program biodiesel 100% (B100) yang berbahan baku minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) masih dalam tahap penelitian, dan karakteristik bahan bakar ini diharapkan lebih baik dibandingkan alternatif yang ada saat ini.
“Kita sedang mempersiapkan B100, namun masih dalam tahap penelitian untuk memastikan kestabilan dan efisiensinya. Karakter biodiesel dari sawit bisa lebih unggul, namun ada beberapa tantangan teknis yang perlu diatasi sebelum bisa mencapai komersialisasi penuh,” ujar Edi.
Edi menjelaskan bahwa pengembangan biodiesel tidak hanya melibatkan Kementerian ESDM, tetapi juga kolaborasi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perekonomian, dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk perusahaan sawit dan petani. Pemerintah bersama pihak-pihak terkait sedang menyusun kebijakan keuangan dan insentif untuk mendukung komersialisasi biodiesel, khususnya terkait kemitraan antara petani plasma, petani swadaya, dan perusahaan produsen biodiesel.
“Produksi biodiesel sangat bergantung pada kelapa sawit sebagai bahan baku utama. Oleh karena itu, peran petani sawit, baik plasma maupun swadaya, sangat penting. Kemitraan antara petani dan perusahaan harus terus ditingkatkan agar program biodiesel tidak hanya sukses di sektor industri, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi petani sawit,” pungkas Edi. (MNA/SP)













