Ganoderma Masih Mengancam Kebun Sawit, Petani Sungai Lala Dibekali Cara Pencegahan
Penyuluhan pertanian mahasiswa Kukerta Unri di Sungai Lala, Indragiri Hulu. (Dok Unri)
SAWITNEWS.CO – Penyakit busuk pangkal batang akibat jamur Ganoderma masih menjadi ancaman serius bagi produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat. Selain sulit dikendalikan, penyakit ini dapat menyebar ke tanaman lain apabila tidak ditangani sejak dini.
Persoalan tersebut menjadi salah satu materi utama dalam penyuluhan yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau (UNRI) di Gedung Serbaguna Desa Pasir Bongkal, Kecamatan Sungai Lala, Kabupaten Indragiri Hulu, Ahad (19/7/2026). Penyuluhan diikuti petani sawit, perangkat desa, serta perwakilan sejumlah desa di Kecamatan Sungai Lala.
Dosen Pembimbing Lapangan KUKERTA Sungai Lala, Irfandri SP MSi, mengatakan serangan Ganoderma harus diantisipasi sejak tanaman masih berada di pembibitan. Salah satu gejalanya ialah pelepah menggantung atau patah yang kemudian diikuti penurunan kondisi tanaman.
"Kalau sudah ditemukan gejala mengarah ke Ganoderma, tanaman harus segera diisolasi bahkan dimusnahkan agar spora jamur tidak menyebar ke tanaman sehat lainnya," kata Irfandri.
Selain penyakit, petani juga mengeluhkan tingginya pertumbuhan gulma di lahan rawa yang menyebabkan biaya perawatan kebun semakin besar. Menjawab pertanyaan peserta, Irfandri menjelaskan penggunaan herbisida sistemik lebih efektif dibanding herbisida kontak untuk pengendalian jangka panjang.
"Herbisida kontak memang bekerja lebih cepat, tetapi hanya mematikan bagian yang terkena semprotan. Herbisida sistemik bekerja sampai ke akar sehingga pertumbuhan gulma dapat ditekan lebih lama," ujarnya.
Menurut dia, penggunaan herbisida sistemik dapat mengurangi frekuensi penyemprotan sehingga biaya tenaga kerja menjadi lebih efisien.
Dalam sesi diskusi, petani juga menanyakan waktu terbaik melakukan penyemprotan pestisida dan pemupukan. Irfandri menyarankan kegiatan tersebut dilakukan pada pagi hari pukul 06.00–10.00 atau sore hari setelah pukul 15.00.
"Hindari penyemprotan pada siang hari karena suhu yang tinggi membuat bahan aktif cepat menguap. Pada jam itu hama juga umumnya bersembunyi di balik pelepah sehingga pengendaliannya kurang efektif," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya sanitasi kebun untuk menekan serangan kumbang tanduk, terutama pada tanaman belum menghasilkan (TBM). Upaya yang dapat dilakukan antara lain membersihkan batang lapuk, memasang perangkap feromon, menggunakan jaring pelindung pada pucuk tanaman muda, menanam tanaman penutup tanah, serta mengaplikasikan insektisida butiran sesuai anjuran.
Melalui penyuluhan tersebut, mahasiswa KUKERTA UNRI berharap petani mampu mengenali lebih dini serangan hama dan penyakit sehingga produktivitas kebun sawit rakyat di Kecamatan Sungai Lala dapat terus meningkat. (MNA/SP)













