68 Ribu Hektare Tesso Nilo Jadi Kebun Sawit, Habitat Gajah Sumatera Terancam
Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Heru Sutmantoro. (Dok Diskominfotik Riau)
SAWITNEWS.CO – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mulai memperkuat langkah pemulihan ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Provinsi Riau. Upaya ini dilakukan setelah sebagian besar kawasan konservasi tersebut mengalami degradasi akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.
"Dari total luas kawasan yang ditetapkan sebesar 81.793 hektare, sekitar 68.043 hektare atau 83,2 persen telah berubah menjadi kebun sawit. Kondisi tersebut menyisakan hutan alami seluas 13.750 hektare atau hanya 16,8 persen," kata Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Heru Sutmantoro usai sosialisasi pedoman pemulihan ekosistem TNTN di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (4/11/2026).
Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman yang sama mengenai pelaksanaan pemulihan ekosistem Tesso Nilo pascapenertiban kawasan hutan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Pedoman tersebut menjadi acuan teknis pemulihan berbasis ilmu pengetahuan atau science-based restoration.
Pelaksanaannya dirancang secara sistematis, terukur, dan adaptif. Pelaksanaan pemulihan TNTN melibatkan berbagai pihak untuk mengembalikan fungsi ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.
"Kerusakan ekosistem ini berdampak langsung pada kelestarian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan keseimbangan hidrologi kawasan. Perambahan yang marak telah memecah habitat gajah menjadi kantong-kantong kecil serta memutus koridor pergerakannya," cakap Heru.
Pemulihan akan difokuskan pada pengembalian habitat dan koridor pergerakan Gajah Sumatera. Selain itu, jenis vegetasi yang menjadi sumber pakan dan tempat berlindung satwa tersebut juga akan diperkaya.
"Salah satu upaya yang disiapkan adalah rekayasa habitat terpadu melalui pembangunan salt lick atau sumber mineral buatan. Fasilitas tersebut akan ditempatkan di zona lembah sebagai titik penarik aktivitas gajah. Agar, satwa tetap beraktivitas di dalam kawasan konservasi, sekaligus mengurangi potensi pergerakan ke permukiman warga," jelas Heru.
Selain melindungi satwa, pemulihan Tesso Nilo juga diarahkan untuk mengembalikan fungsi hidrologi kawasan. Taman nasional tersebut merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi tiga sungai utama, yakni Sungai Nilo, Sungai Air Sawan, dan Sungai Air Hitam.
"Alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit monokultur telah mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan menyebabkan pemadatan tanah. Akibatnya, wilayah sekitar lebih rentan mengalami banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem ketika musim kemarau," jelas Heru.
Guna mengatasi persoalan tersebut, pemulihan dilakukan melalui penanaman vegetasi riparian di sepanjang sempadan sungai serta pemulihan tutupan kanopi hutan secara bertahap. Langkah tersebut diharapkan dapat mengembalikan kemampuan kawasan dalam menyimpan dan menahan air, menjaga kelembapan tanah, menstabilkan iklim mikro, serta memperbaiki tata air regional.
Dari sisi pendanaan, pemulihan ekosistem Tesso Nilo akan didukung melalui berbagai sumber pembiayaan, di antaranya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), skema Result-Based Contribution (RBC) FOLU Net Sink 2030, dukungan sektor swasta melalui Remedy Framework, kerja sama penguatan fungsi, serta dukungan filantropi nasional dan internasional. Keterlibatan warga desa penyangga menjadi bagian penting dalam seluruh tahapan pemulihan.
Dengan demikian, upaya rehabilitasi kawasan tidak hanya berorientasi pada pemulihan hutan. Tetapi, upaya rehabilitas juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga sekitar.
"Melalui sinergi lintas sektor dan komitmen bersama, pemulihan TNTN diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan. Hutan yang sehat bukan hanya menjadi rumah bagi Gajah Sumatera. Tetapi, hutan yang sehat juga berperan sebagai spons raksasa yang melindungi desa-desa dari ancaman banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem pada musim kemarau," tutupnya. (MNA/SP)













