Antara Politik dan Keraguan

Koperasi Sentra Madani Tunjuk Ariadi Kelola Kebun Sawit 298 Hektare di Siak

Hukum Senin, 17 Agustus 2026 - 11:06 WIB
Koperasi Sentra Madani Tunjuk Ariadi Kelola Kebun Sawit 298 Hektare di Siak

Ilustrasi kebun sawit. (Foto Istimewa)

SAWITNEWS.CO – Lahan kebun kelapa sawit seluas 298.10 hektar itu kini sepenuhnya berada di tangan Koperasi Sentra Madani.

Sejak Juni 2026 lalu kontrak kerja sama dengan PT Kimia Tirta Utama (KTU) berakhir. Kedua belah pihak kerja sama selama 10 tahun dari 23 Juni 2016 sampai 23 Juni 2026.

Kendati begitu, pengurus koperasi tidak ingin kaki dan tangan mereka kotor atau terkena duri sawit.


Gayung bersambut, datanglah 'proposal' atas nama Ariadi Tarigan sebagai jasa pengamanan kebun berlokasi di wilayah Kecamatan Koto Gasib itu.

Tak pikir dua kali, petinggi koperasi di bawah payung Yayasan Islamic Center Siak ini langsung menerimanya.

Dianggap 'super hero' dalam meredam konflik lahan antara Koperasi Karya Dayun dengan PT Duta Swakarya Indah (DSI) yang terjadi puluhan tahun, menjadi dasar penunjukan Ariadi oleh pihak koperasi.

"Yang datang ke kita, Pak Ariadi. Dia bilang ke kita Karya Dayun dan Rawang Air Putih aman. Jadi ya udah, kita sepakat menunjuknya sebagai orang yang mengamankan lahan koperasi di Koto Gasib," kata Sekretaris Koperasi Sentra Madani, Rizannaky Kadri, kepada awak media di Kota Siak Sri Indrapura pada Rabu (12/8) malam, dikutip elaeis.co.

Pria yang akrab disapa Zaky itu mengatakan penunjukan Ariadi secara tertulis dari koperasi yang ditandatanganinya dan ketua koperasi.


"Jadi, lahan itu saat ini dikelola oleh pihak ketiga atas nama Ariadi Tarigan. Pak Ariadi bukan mengelola penuh, tapi hanya sebagai pengamanan kebun dan digaji. Soal berapa gajinya, saya tidak tahu. Itu bendahara koperasi yang tahu," ujarnya.

Zaky mengatakan penggunaan jasa pengamanan ini dilakukan karena sempat terjadi konflik di lahan itu dengan pihak-pihak lain pasca-berakhirnya kerja sama dengan PT KTU.

"Setelah berakhirnya kerja sama dengan PT KTU, di dalam sana berkecambuk. Pencurian buah terjadi. Saya bolak-balik ke Polres Siak melaporkan kasus pencurian buah," ujar pria yang juga Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siak ini.

"Nah, karena rata-rata anggota koperasi pegawai Islamic yang tidak mengetahui soal perkebunan, Pak Ariadi datang menawarkan diri," tambahnya.

Zaky mengatakan penunjukan Ariadi bukan antar lembaga. Malainkan per orang. Ia juga mengaku pihaknya masih memastikan formula yang pas agar hasil kebun memuaskan.

"Ke depannya kita meminta agar jasa pengamanan ini harus bekerja sama dengan lembaga. Tidak perorangan. Tapi perlu diketahui bahwa penunjukan itu baru kuasa. Limitnya tidak ada. Kapan saja bisa kami cabut kerja samanya," ujarnya.

Tiba-Tiba Tugas Ariadi Bertambah

Setelah hampir 30 menit diskusi dengan awak media, Zaky mengaku selain sebagai pengamanan kebun, tugas Ariadi juga sebagai pemanen.

"Tugasnya selain mengamankan juga memanen kebun. Tapi bukan mengelola TBS sawit. PT KTU juga masih pendampingan. Hasil kebun masih dibali oleh PT KTU," tambahnya.

Lebih jauh Zaky mengatakan bahwa pada 31 Juli 2026 lalu, hasil tanaman yang didapat dari lahan seluas 298.10 itu hanya sekitar 6 ton TBS sawit atau sekitar Rp18 juta.

Kendati angka pastinya tidak diketahui, Zaky mengaku hasil panen seminggu terakhir mulai meningkat.

"Delapan hari ini sekitar 40-50 ton lah. Benderalah yang tahu berapa uangnya. Bendahara yang lebih tahu semua. Uang kebun lansung masuk ke koperasi dari PT KTU sesuai hasil dan harga TBS di pabrik," ujarnya.

"Yang manen Pak Ariadi dan dijual ke PT KTU. Uangnya langsung ditransfer oleh PT KTU ke koperasi. Tidak lewat Pak Ariadi. Pak Ariadi ditunjuk baru bulan Agustus ini," tambahnya lagi.

Zaky memastikan bahwa saat ini hasil kebun yang didapat oleh koperasi lebih baik dibanding saat kerja sama dengan PT KTU selama 10 tahun.

"Sekarang ini berapa hasil kebun, segitulah masuk uangnya ke koperasi. Kalau dulu kan tidak, bulat saja Rp150 juta per bulan. Berapa ton yang didapat dari 298 ha itu, tetap saja masuk ke koperasi Rp150 juta per bulan," terangnya.

Zaky juga memastikan tidak ada muatan politik atas penunjukan Ariadi. Namun saat disinggung informasi terkait kerja sama ini terkesan tertutup, Zaky mengakuinya.

"Tidak ada kaitan dengan kedekatan dalam penunjukan ini. Pak Ariadi yang mengajukan kerja sama. Bukan kita. Terkait politik-politik, saya tak ikut campur," kata Zaky.

"Karena dia yang menawarkan, dan tak ada orang lain juga, tentu dia yang digaji. Memang tak ada kita umumkan soal ini. Namun perlu diketahui bahwa penunjukannya secara tertulis. Dia datang ke kami lewat ketua Nizam. Pokoknya tak ada relasi kekuasaan dalam penunjukan ini," pungkasnya. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam