Sawit Penopang Ekonomi

Andalas Forum V 2025: Strategi Perkuat Ketahanan Industri Kelapa Sawit Indonesia

Metropolis Kamis, 22 Mei 2025 - 21:11 WIB
Andalas Forum V 2025: Strategi Perkuat Ketahanan Industri Kelapa Sawit Indonesia

Event Andalas Forum V Tahun 2025 yang dilaksanakan di Pekanbaru. (Dok GAPKI)

SAWITNEWS.CO – Gabungan Pengusaha Kelapa Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) lintas Sumatera menggelar Andalas Forum V Tahun 2025 yang diikuti oleh 700 peserta yang dilaksanakan di Pekanbaru.

Dalam gelaran tersebut pelaku usaha berbagi pengalaman dan menjalin kolaborasi, serta menampilkan berbagai inovasi terbaru di sektor sawit. Acara tersebut dibuka oleh Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Heru Tri Widarto.

Heru menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk memperkuat posisi industri kelapa sawit nasional di tengah tantangan global dan domestik yang kian kompleks.


“Kontribusi kelapa sawit terhadap perekonomian nasional sangat besar. Namun kita juga tidak bisa menutup mata terhadap berbagai tantangan yang datang, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti situasi geopolitik dan kebijakan negara-negara pengimpor,” ujar Heru.

Heru menyampaikan forum seperti ini penting sebagai ruang diskusi yang mampu menghasilkan solusi konkret dan menyelaraskan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan industri.

Ditempat yang sama, Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono menyebutkan bahwa saat ini masih ada beberapa hambatanyang masih terus muncul, dan ini menuntut pelaku usahauntuk bersatu mencari jalan keluar.

“Industri sawit memiliki peran strategis dalam perekonomian dan kesejahteraan petani. Bahkan ketika industri lain terdampak krisis dan terjadi PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran, sawit tetap mampu bertahan,” tegas Eddy.

Lebih lanjut, Edy mengatakan, “pentingnya peran pemerintah dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi industri sawit nasional. Meski begitu, sektor ini sangat penting karena memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara, penghidupan petani, dan penyerapan tenaga kerja.”


Edy juga menjelaskan bahwa industri kelapa sawit selama ini sudah menjadi tumpuan bagi 16,2 juta kepala keluarga (KK) di Indonesia, sehingga industri sawit Indonesia harus terus dijaga untuk terus memberikan manfaat. Pentingnya peran industri kelapa sawit bagi perekonomian, juga dirasakan Indonesia saat krisis moneter tahun 1997-1998 silam, krisis global 2008 silam serta pandemi Virus Covid-19 yang ikut melanda tanah air pada tahun 2020 lalu.

“Pada krisis moneter tahun 1997-1998, industri kelapa sawitlah yang menyelamatkan perekonomian Indonesia. Kemudian pada krisis global 2008, kala itu disaat nilai tukar rupiah melemah, dari Rp9.000 per Dolar AS menjadi Rp12.000 per Dolar AS, sektor sawit jugalah yang menyelamatkannya. Bahkan industri sawit juga tetap memberikan devisa yang positif bagi perekonomian Indonesia,” ujar Edy melalui Andalas Forum V.

Edy pun menjelaskan bahwa ketika pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk Indonesia, banyak perusahaan yang melakukan PHK massal terhadap karyawannya. Tapi hal itu tidak terjadi terhadap perusahaan-perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Industri kelapa sawit di Indonesia justru menambah banyak karyawan dan tenaga kerja serta tidak ada yang melakukan PHK.

“Kita (Indonesia) adalah salah satu produsen dan konsumen minyak sawit terbesar di dunia, bayangkan bagaimana kalau Indonesia tidak punya kebun kelapa sawit. Untuk itu, peremajaan sawit rakyat (PSR) harus terus ditingkatkan karena itu merupakan salah sau upaya untuk meningkatkan produksi,” sebut Eddy.

Karena itu, Eddy menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan industri kelapa sawit di Indonesia secara berkelanjutan dan berdaya saing. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam