Cari Terobosan Baru

Petani Kelapa Terancam Beralih ke Sawit, Riau Andalkan Hilirisasi

News Rabu, 04 November 2026 - 12:24 WIB
Petani Kelapa Terancam Beralih ke Sawit, Riau Andalkan Hilirisasi

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Riau, Helmi, saat membuka kegiatan The 3rd Bedelau di Aula Lancang Kuning Bank Indonesia. (Dok Pemprov Riau)

SAWITNEWS.CO – Hilirisasi komoditas kelapa dinilai menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Rencana hilirisasi ini sekaligus mempertahankan posisi Riau sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Indonesia.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Riau, Helmi, usai membuka kegiatan The 3rd Bedelau dengan tema Hilirisasi Kelapa bagi Perekonomian Riau Makin Beragam di Aula Lancang Kuning Bank Indonesia (BI) perwakilan Riau, Rabu (4/11/2026), mengatakan, kajian hilirisasi kelapa yang dilakukan BI menjadi langkah penting bagi Pemprov Riau dalam menyusun strategi pengembangan komoditas tersebut. Nantinya, hasil kajian itu dapat menjadi landasan bagi Pemprov Riau dan pemerintah kabupaten, khususnya daerah penghasil kelapa, dalam mengembangkan industri hilir.

Tiga daerah yang menjadi sentra utama produksi kelapa di Riau yakni Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Kepulauan Meranti, dan Pelalawan. Dari ketiga daerah tersebut, Indragiri Hilir menjadi wilayah dengan perkebunan kelapa terluas, yakni lebih dari 300 ribu hektare.


"Di Provinsi Riau ada sekitar 400 ribu hektare perkebunan kelapa. Dengan adanya kajian ini, kami berharap potensi tersebut bisa dikembangkan dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani," cakap Helmi.

Hilirisasi menjadi alternatif penting. Karena, harga kelapa masih jauh di bawah harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat ini. Kini, harga kelapa berada di kisaran Rp2.300 per kilogram. Sedangkan harga TBS kelapa sawit mencapai sekitar Rp3.200 per kilogram.

"Selain perbedaan harga, frekuensi panen juga menjadi faktor yang memengaruhi pendapatan petani," ujar Helmi.

Pada umumnya, kelapa dipanen tiga bulan sekali. Sementara, kelapa sawit dapat dipanen dua kali dalam sebulan.

Dengan kondisi tersebut, pendapatan petani kelapa dari lahan seluas satu hektare diperkirakan belum mencapai Rp2,5 juta per bulan. Angka itu terpaut cukup jauh dibandingkan petani sawit yang berpotensi memperoleh pendapatan sekitar Rp4 juta per bulan dari lahan dengan luas yang sama.


"Ini menjadi tantangan bagi petani kelapa. Karena itu, hilirisasi merupakan salah satu solusi terbaik. Agar, nilai tambah komoditas kelapa bisa meningkat dan berdampak langsung terhadap pendapatan petani," sebut Helmi.

Diharapkan, kajian yang dilakukan BI bersana akademisi ini tidak hanya menjadi dokumen perencanaan. Tetapi, kajian ini juga dapat dimanfaatkan Pemprov Riau untuk menyusun langkah konkret pengembangan industri pengolahan kelapa.

"Keberlanjutan perkebunan kelapa di Riau harus kita jaga. Kesenjangan pendapatan antara petani kelapa dan sawit berpotensi memengaruhi pilihan petani dalam menentukan komoditas perkebunan," tutur Helmi

Jika tidak diantisipasi, petani dikhawatirkan beralih dari kelapa ke kelapa sawit. Karena, harga jual TBS dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi.

"Kami tentu tidak ingin suatu saat ikon Riau sebagai salah satu penghasil kelapa terbesar di Indonesia berubah. Karena, para petani mulai meninggalkan perkebunan kelapanya. Ini yang harus kita hindari," ujarnya. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam