Dorong Tumpang Sari Padi dengan Sawit

Kementan Sediakan Benih Unggul, Pengelolaan Tanah Hingga Pemanfaatan Pupuk

Nasional Senin, 24 Maret 2025 - 06:08 WIB
Kementan Sediakan Benih Unggul, Pengelolaan Tanah Hingga Pemanfaatan Pupuk

Inovasi dan pengembangan padi gogo di lahan sawit peserta program PSR terus digalakan guna mendukung swa sembaga pangan nasional. (Dok Ditjenbun)

SAWITNEWS.CO - Pemerintah terus mendorong optimalisasi lahan kering untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Gerakan Tanam Padi Gogo dilaksanakan di seluruh Indonesia, termasuk dengan pola tumpang sari di kebun sawit peserta Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR)

Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Heru Tri Widarto menegaskan bahwa pengembangan padi gogo di lahan kering merupakan solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan air.

Padi gogo memiliki ketahanan lebih baik terhadap kondisi lahan yang minim irigasi. Dengan teknologi dan bimbingan yang tepat, diharapkan produksi padi di lahan kering dapat terus meningkat, mendukung ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani,” jelasnya kepada wartawan akhir pekan lalu.


Untuk menyukseskan Gerakan Tanam Padi Gogo, selain penyediaan bibit, Kementan juga membantu penyuluhan teknis mengenai budidaya padi gogo, mulai dari pemilihan benih unggul, pengelolaan tanah, hingga pemanfaatan pupuk organik. 

“Kementan bersama jajarannya juga berkomitmen untuk terus mendukung para petani dengan menyediakan sarana produksi dan akses pasar yang lebih luas,” terangnya.

Dia menegaskan bahwa perkebunan harus turut berkontribusi aktif menyukseskan program pemerintah, khususnya mendukung swasembada pangan, baik itu melalui penanaman padi gogo atau Penambahan Areal Tanam (PAT), irigasi perpompaan (irpom), maupun pompanisasi.

“Saat ini total areal perkebunan sawit rakyat di seluruh Indonesia sekitar 6 juta hektare. Setidaknya 600 ribu hektare lahan PSR secara nasional berpotensi ditanami padi gogo. Ini adalah potensi yang besar untuk mewujudkan swasembada pangan,” tukasnya.

Ia mengatakan, para pekebun dapat memanfaatkan bantuan Program PSR yang ditumpangsarikan dengan padi gogo melalui bantuan benih unggul, pestisida dan herbisida.


“Program ini mengusung sebuah konsep inovatif yang tidak hanya memperhatikan keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit untuk mendorong peningkatan produktivitasnya, tetapi juga bertujuan untuk mendukung swasembada pangan,” imbuhnya.

Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Hairmansis menambahkan, pola tumpang sari padi gogo di kebun kelapa sawit perlu dibarengi dengan perubahan budaya bertanam semusim yang dimiliki petani kelapa sawit.

“Petani sawit perlu mengubah mindset dari kebiasaan merawat tanaman kelapa sawit dan beralih ke tanaman padi karena siklus tanaman padi hanya berkisar 4 bulan panen sehingga harus menggunakan bibit unggul sesuai lokasi, dosis pemupukan sampai dengan pengendalian hama lahan kering yang tepat,” bebernya.

Lebih lanjut Aris menjelaskan padi gogo merupakan suatu jenis padi yang tidak ditanam di sawah yang memerlukan pengairan yang banyak, tapi ditanam di kebun atau ladang yang tidak memerlukan irigasi khusus. Pola tumpang sari padi gogo pada lahan kelapa sawit di beberapa daerah sudah cukup berhasil. “Diantara benih unggul yang bisa digunakan petani sawit, yakni IPB 9G produksi Institut Pertanian Bogor,” tutupnya. (FSY/SP)

FA Syam
Editor :MNA