PT Ratu Bio Indonesia Kembangkan Kosmetik Berbasis Sawit, Tingkatkan Nilai Tambah UMKM
Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit bertema Aplikasi Pembuatan Hand Sanitizer Sawit di Serpong, Banten. (Foto Istimewa)
SAWITNEWS.CO – Produk turunan sawit tak lagi identik dengan minyak goreng atau biodiesel. Kini, pelaku usaha kecil menengah (UKM) mulai menembus sektor bernilai tinggi seperti kosmetik dan perawatan pribadi. Salah satunya dilakukan oleh PT Ratu Bio Indonesia, yang tengah bersiap melakukan ekspansi ke pasar kosmetik berbasis bahan baku sawit.
“Selama ini kami fokus di produk rumah tangga seperti hand soap, dish wash, dan hand sanitizer yang banyak mengandung turunan sawit. Tapi ke depan, kami akan masuk ke kosmetik karena nilai pasarnya jauh lebih tinggi,” ujar Shandyka Yudha Pratama, General Manager PT Ratu Bio Indonesia, dalam Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit bertema “Aplikasi Pembuatan Hand Sanitizer Sawit” di Serpong, Banten, Kamis (23/10/2025).
Shandyka menjelaskan, perusahaan yang berbasis di Gunung Putri ini awalnya memproduksi produk-produk Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT), seperti sabun cuci tangan dan cairan pembersih, menggunakan bahan turunan sawit berupa fatty acid methyl ester dan metil ester sulfonate (MES).
Selain itu, mereka juga mengolah crude gliserol, yang sebelumnya merupakan limbah industri, menjadi gliserin—bahan pelembap penting dalam pembuatan kosmetik dan hand sanitizer.
“Hand sanitizer misalnya, alkoholnya bisa membuat kulit kering, jadi kita tambahkan gliserin hasil olahan dari sawit agar tetap lembap dan tidak iritasi,” jelasnya.
Dalam satu tahun terakhir, Ratu Bio bahkan sudah menerima pesanan bahan methyl ester dari Petrokimia Gresik, membuktikan bahwa produk UMKM berbasis sawit juga diminati oleh industri besar.
Meski masih berfokus pada pasar business to business (B2B), Shandyka menilai sektor kosmetik membuka potensi nilai tambah yang jauh lebih besar bagi pelaku UMKM.
“Produk PKRT seperti sabun cuci piring sulit dinaikkan harganya karena konsumen cenderung cari yang murah. Tapi kosmetik bisa memberi markup dua sampai tiga kali lipat. Pasarnya juga kuat di dalam dan luar negeri,” katanya.
Ratu Bio kini tengah menyiapkan inovasi produk kosmetik berbasis sawit yang dikombinasikan dengan bahan alami khas Indonesia, seperti kemangi, serai, hingga kemenyan.
“Ketika kami pameran di luar negeri, mereka sangat tertarik karena bahan-bahan itu tidak ada di negaranya. Varian sabun sawit dengan aroma kemenyan bahkan disukai orang Belanda, karena mengingatkan mereka pada Bali,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski peluang besar terbuka, Shandyka mengakui tantangan utama bagi UMKM sawit adalah perizinan dan kemasan.
“Mengurus izin edar dan izin produksi itu panjang dan kadang sulit lolos. Karena itu kami menyarankan UMKM menggunakan konsultan agar lebih mudah. Tapi biayanya juga tidak murah,” ungkapnya.
Masalah lain adalah keterbatasan kemasan menarik yang sebagian besar masih harus diimpor dari Tiongkok. Padahal, menurutnya, tampilan kemasan berperan penting dalam memenangkan pasar kosmetik.
“Produk bagus saja tidak cukup. Kalau kemasannya tidak lucu atau tidak premium, sulit bersaing dengan brand besar seperti Unilever atau Wings,” tambahnya.
Shandyka berharap pemerintah lebih aktif dalam pendampingan teknis dan pelatihan untuk UMKM berbasis sawit, terutama yang ingin naik kelas ke industri kosmetik dan ekspor.
“Kami aktif mencari informasi pelatihan sendiri, tapi seharusnya ada pendampingan lebih terstruktur dari pemerintah. Karena sawit ini potensinya luar biasa besar, bukan hanya untuk industri besar tapi juga untuk UMKM,” ujarnya. (MNA/SP)













