Dosen UHO: Sawit Berperan Besar Kurangi Pengangguran di Desa
Dosen Universitas Halu Oleo, Dr Dasmin Sidu SP MP dalam kegiatan Workshop & Pasar Benih Sawit di Kendari. (Dok Diskominfotik Kendari)
SAWITNEWS.CO – Komoditas kelapa sawit dinilai bukan sekadar sektor perkebunan biasa, tetapi sudah menjadi penggerak ekonomi yang mampu menekan angka kemiskinan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Hal tersebut disampaikan oleh Dr Dasmin Sidu SP MP, dosen Universitas Halu Oleo dalam kegiatan Workshop & Pasar Benih Sawit di Kendari, Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, sawit memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa jika dikelola dengan baik.
“Sawit hadir berkontribusi mengurangi angka kemiskinan. Dengan usaha budidaya, akan membuka lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran dan menekan urbanisasi,” ujarnya.
Dasmin menjelaskan, salah satu persoalan klasik di daerah 3T adalah tingginya angka urbanisasi ke kota-kota besar akibat terbatasnya lapangan pekerjaan di desa. Kehadiran industri sawit dinilai mampu menjadi solusi karena membuka banyak peluang kerja di sektor hulu hingga hilir.
Dengan adanya perkebunan sawit, masyarakat tidak perlu lagi meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota. Aktivitas ekonomi di tingkat desa dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri.
“Dengan kelapa sawit akan terbuka lapangan kerja yang memadai bagi masyarakat di desa, sehingga tidak perlu berbondong-bondong ke kota,” jelasnya.
Selain membuka lapangan kerja, keberadaan perkebunan sawit juga mendorong perbaikan infrastruktur di daerah. Jalan produksi, akses transportasi, hingga konektivitas antarwilayah biasanya ikut berkembang seiring pertumbuhan industri sawit.
Dampaknya, distribusi hasil pertanian menjadi lebih lancar dan biaya logistik bisa ditekan. Hal ini turut meningkatkan efisiensi ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan.
Tidak hanya itu, peningkatan pendapatan petani juga berdampak pada sektor pendidikan dan kesehatan. Dengan penghasilan yang lebih baik, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
“Petani sawit punya kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga, termasuk pendidikan anak,” kata Dasmin.
Dasmin juga menyoroti efek berganda (multiplier effect) dari industri sawit di pedesaan. Tidak hanya sektor perkebunan yang berkembang, tetapi juga berbagai usaha pendukung lainnya seperti transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro.
Aktivitas ekonomi seperti ojek, kios sembako, warung makan, hingga jasa angkut hasil panen tumbuh seiring meningkatnya aktivitas perkebunan.
“Akan tumbuh kegiatan ekonomi di sekitar kelapa sawit, mulai dari transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro lainnya,” ungkapnya.
Meski memberikan banyak dampak positif, Dasmin mengingatkan bahwa pengembangan sawit juga memiliki tantangan yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah potensi ketimpangan sosial antara petani dan perusahaan, konflik lahan, serta perubahan struktur sosial masyarakat.
Selain itu, ketergantungan terhadap satu komoditas juga bisa menjadi risiko jika tidak dikelola dengan baik, terutama saat terjadi fluktuasi harga.
“Ketergantungan terhadap sawit membuat masyarakat rentan terhadap perubahan harga pasar,” ujarnya.
Isu lingkungan, hak atas lahan, hingga potensi eksploitasi tenaga kerja juga menjadi perhatian yang perlu diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan masalah jangka panjang.
Untuk memastikan manfaat sawit dapat dirasakan secara optimal, Dasmin menekankan pentingnya tata kelola yang baik, kebijakan yang inklusif, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pengembangan.
Menurutnya, kemitraan yang adil antara petani, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi kunci utama agar industri sawit dapat berjalan berkelanjutan.
“Diperlukan tata kelola yang baik dan partisipasi masyarakat agar manfaat sawit benar-benar dirasakan secara adil,” tegasnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, kelapa sawit dinilai bukan hanya sebagai komoditas ekspor unggulan, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam menekan kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah 3T.
“Kalau dikelola dengan baik, sawit bisa menjadi motor utama pembangunan ekonomi desa di Indonesia,” pungkas Dasmin. (MNA/SP)













