Kreatif dan Adaptif

Gen Z Dinilai Punya Peluang Besar Kembangkan UMKM Berbasis Sawit

Nasional Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:50 WIB
Gen Z Dinilai Punya Peluang Besar Kembangkan UMKM Berbasis Sawit

Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Sleman, Dwi Wulandari dalam Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit, Selasa (12/5/2026). (Dok Diskominfotik Sleman)

SAWITNEWS.CO – Generasi Z dinilai memiliki peluang besar menjadi penggerak baru usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pada sektor usaha berbasis sawit. Karakter generasi muda yang kreatif, adaptif, dan dekat dengan teknologi dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat daya saing industri pada masa mendatang.

Hal itu mengemuka dalam Talkshow Sesi I bertajuk “Success Story Membangun UMKM Sawit” pada kegiatan Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit bertema “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood” di Sleman, Selasa (12/5/2026). Acara tersebut diinisiasi Majalah Sawit Indonesia bekerja sama dengan AKPY-STIPER dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta disponsosi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman Dwi Wulandari mengatakan Indonesia akan menghadapi puncak bonus demografi pada 2039. Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan karena generasi muda harus dipersiapkan dengan keterampilan dan kemampuan yang memadai.


Menurut dia, Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045 melalui peningkatan pendapatan per kapita, pengurangan ketimpangan sosial, hingga penguatan daya saing sumber daya manusia (SDM).

“Kalau pertumbuhan ekonomi masih stagnan di kisaran 5 persen sampai 6 persen, Indonesia berisiko terjebak sebagai negara berpendapatan menengah. Untuk menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi harus bisa mencapai 6 persen hingga 8 persen,” kata Dwi.

Ia menilai perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan komputasi awan turut mengubah kebutuhan tenaga kerja di masa depan. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan beradaptasi dan inovasi agar mampu bersaing.

Menurut Dwi, generasi Z yang lahir pada 1997–2012 memiliki karakter khas sebagai generasi digital native. Mereka dinilai kreatif, cepat beradaptasi, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan, sosial, dan hak asasi manusia.

Namun, ia mengingatkan dunia kerja tetap memiliki tekanan dan tantangan yang harus dihadapi, termasuk di sektor industri sawit.


“Mereka ingin ada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sosial. Tetapi, di dunia kerja tentu tetap ada tekanan yang harus dihadapi,” ujarnya.

Peluang UMKM Sawit

Dwi menjelaskan, meskipun Kabupaten Sleman tidak memiliki industri pengolahan sawit skala besar, banyak produk UMKM yang memanfaatkan turunan sawit, mulai dari minyak goreng kemasan, makanan olahan, hingga produk kosmetik dan sabun.

Menurut dia, minyak sawit memiliki sejumlah keunggulan untuk industri pangan karena lebih tahan lama dan tidak mudah tengik dibandingkan minyak kelapa.

“Produk turunannya sangat banyak, mulai dari roti, gorengan, kosmetik, sampai sabun,” katanya.

Ia menilai generasi muda dapat mengambil peran sebagai inovator produk maupun pemasar digital dalam pengembangan UMKM sawit. Meski demikian, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti akses permodalan, konsistensi produksi, hingga legalitas usaha.

Untuk mendukung pengembangan UMKM, Pemerintah Kabupaten Sleman menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari bantuan penguatan modal, pendampingan perizinan usaha, sertifikasi halal, hingga pelatihan digitalisasi melalui Rumah Kreatif Sleman dan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM.

Selain itu, pemerintah daerah juga membuka akses promosi melalui pameran, business matching, hingga kemitraan dengan marketplace dan pelaku usaha besar.

UMKM Diminta Berani Eksekusi

Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman Edy Santosa mengatakan saat ini terdapat lebih dari 100.000 UMKM binaan di Sleman. Sekitar 50 persen di antaranya bergerak di bidang kuliner dan pangan yang banyak menggunakan produk turunan sawit.

Menurut dia, tantangan utama UMKM saat ini ialah digitalisasi pemasaran. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pemkab Sleman menghadirkan platform digital Sleman Mart sebagai marketplace produk lokal.

Selain itu, pemerintah daerah juga memberikan fasilitasi sertifikasi halal gratis bagi pelaku usaha kuliner sejak 2022. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam