Transisi Energi

PLN EPI Bidik 200 Pabrik Sawit Jadi Pemasok Bio-CNG Nasional

Nasional Selasa, 16 Juni 2026 - 14:17 WIB
PLN EPI Bidik 200 Pabrik Sawit Jadi Pemasok Bio-CNG Nasional

Limbah cair kelapa sawit/Palm Oil Mill Effluent (POME). (Foto Istimewa)

SAWITNEWS.CO – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melihat limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi strategis yang dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap liquefied natural gas (LNG) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Melalui pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah sawit, PLN EPI menilai Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan sumber daya domestik yang selama ini belum tergarap optimal menjadi bahan bakar alternatif untuk sektor ketenagalistrikan.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan potensi pengembangan energi dari limbah sawit sangat besar karena didukung ketersediaan bahan baku, teknologi, dan sumber pembiayaan yang memadai.


“Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan,” kata Hokkop di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Indonesia saat ini memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit dengan potensi limbah cair mencapai sekitar 130 juta meter kubik per tahun. Namun sebagian besar limbah tersebut masih belum dimanfaatkan sebagai sumber energi, padahal memiliki kandungan biogas yang dapat diolah menjadi biomethane atau Bio-CNG.

Selain mengurangi kebutuhan gas fosil, pemanfaatan POME juga dinilai mampu mengatasi persoalan lingkungan yang selama ini muncul dari emisi metana yang dihasilkan limbah sawit.

PLN EPI memperkirakan emisi dari limbah cair sawit mencapai sekitar 20 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per tahun. Sebagian besar emisi tersebut berpotensi ditekan melalui pengolahan menjadi sumber energi.

“Kita melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru,” ujarnya.


Sebagai bagian dari strategi pengembangan biomethane nasional, PLN EPI tengah membangun ekosistem CBG terintegrasi yang melibatkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, industri pengguna energi, hingga sektor ketenagalistrikan.

Dalam skema tersebut, PLN EPI mengambil peran sebagai agregator dan pembeli (offtaker) yang akan menyerap produksi Bio-CNG untuk kebutuhan pembangkit listrik berbasis gas.

“Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat,” kata Hokkop.

Salah satu proyek yang sedang dipersiapkan adalah implementasi cofiring Bio-CNG di PLTGU Belawan. Proyek tersebut menjadi langkah awal pemanfaatan biomethane dalam sistem pembangkit listrik nasional dengan memanfaatkan infrastruktur pembangkit gas yang sudah tersedia.

Untuk satu turbin berkapasitas 130 megawatt (MW) dengan tingkat cofiring sebesar 2,5 persen, dibutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CNG yang berasal dari sekitar 330.000 meter kubik POME per tahun. Jumlah tersebut setara dengan produksi satu fasilitas pengolahan CBG.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan empat unit turbin di PLTGU Belawan diperlukan sekitar empat fasilitas CBG dengan total investasi sekitar US$20 juta. Implementasi proyek tersebut diperkirakan dapat mengurangi emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e.

Menurut Hokkop, model cofiring biomethane memungkinkan peningkatan penggunaan energi terbarukan tanpa harus membangun pembangkit baru dalam skala besar. Pendekatan ini dinilai lebih efisien karena memanfaatkan aset pembangkit gas yang telah beroperasi.

Potensi pengembangan Bio-CNG secara nasional juga dinilai sangat menjanjikan. Dari total kapasitas pembangkit berbasis gas nasional yang mencapai 18,4 gigawatt (GW), kebutuhan biomethane untuk skema cofiring 2,5 persen diperkirakan mencapai sekitar 60.000 MMBTUD dengan melibatkan sekitar 200 pabrik kelapa sawit.

Jika terealisasi, skema tersebut berpotensi mengurangi emisi hingga sekitar 14 juta ton CO2e sekaligus memperluas pemanfaatan energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional.

Selain manfaat energi dan lingkungan, proyek CBG juga menawarkan nilai ekonomi yang signifikan. Berdasarkan perhitungan PLN EPI, satu proyek Bio-CNG dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun dengan potensi pengurangan emisi sekitar 700 ribu ton CO2e.

PLN EPI menargetkan pengembangan bisnis CBG dilakukan secara bertahap hingga 2030. Kapasitas produksi biomethane ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030, disertai pembangunan tiga fasilitas CBG untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik dan program dedieselisasi nasional.

“Bioenergi menjadi jembatan antara transisi energi, ketahanan energi, dan ekonomi kerakyatan. Limbah yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” kata Hokkop.

Menurut PLN EPI, pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CNG menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu bergantung pada teknologi baru yang mahal. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik yang melimpah, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi impor energi, memperkuat ketahanan energi, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca secara berkelanjutan. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam