Akibat Permintaan Meningkat

Stok Minyak Sawit Indonesia Turun di Tengah Lonjakan Konsumsi dan Ekspor

Nasional Selasa, 30 Juni 2026 - 15:12 WIB
Stok Minyak Sawit Indonesia Turun di Tengah Lonjakan Konsumsi dan Ekspor

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono. (Dok GAPKI)

SAWITNEWS.CO – Meningkatnya konsumsi domestik dan ekspor membuat stok minyak sawit Indonesia kembali menyusut pada akhir April 2026. Kondisi tersebut terjadi ketika harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global masih bertahan pada level yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Merujuk laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total konsumsi minyak sawit dalam negeri selama April 2026 mencapai 2,141 juta ton, meningkat 1,23 persen dibandingkan Maret yang sebesar 2,115 juta ton.

Peningkatan konsumsi terutama ditopang oleh sektor biodiesel yang naik 7,67 persen menjadi 1,137 juta ton, dari sebelumnya 1,056 juta ton. Konsumsi untuk industri oleokimia juga meningkat 6,79 persen, dari 162 ribu ton menjadi 173 ribu ton.


Sebaliknya, konsumsi minyak sawit untuk sektor pangan mengalami penurunan menjadi 831 ribu ton, atau turun 7,36 persen dibanding Maret yang mencapai 897 ribu ton.

“Secara kumulatif Januari-April 2026, konsumsi domestik telah mencapai 8,666 juta ton, meningkat 6,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 8,171 juta ton,” tulis Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, Senin (29/6/2026), dikutip InfoSAWIT.

Kenaikan konsumsi dalam negeri, bersamaan dengan lonjakan ekspor, berdampak terhadap persediaan minyak sawit nasional. Dengan stok awal April sebesar 2,568 juta ton, ditambah produksi 4,903 juta ton, kemudian dikurangi konsumsi domestik 2,141 juta ton dan ekspor 2,777 juta ton, maka stok akhir April tercatat 2,558 juta ton, sedikit lebih rendah dibandingkan stok akhir Maret yang mencapai 2,568 juta ton.

Meski penurunan stok relatif tipis, kondisi tersebut mencerminkan pasokan yang terserap cukup kuat baik oleh pasar domestik maupun internasional.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menunjukkan harga minyak sawit masih memberikan dukungan terhadap kinerja industri nasional. Sepanjang Januari-April 2026, rata-rata harga CPO CIF Rotterdam mencapai US$1.408 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun 2025 yang berada di level US$1.211 per ton.


Kombinasi harga yang masih tinggi, peningkatan konsumsi dalam negeri, serta stok yang cenderung menurun dinilai menjadi faktor yang berpotensi menjaga pergerakan harga CPO tetap kuat dalam jangka pendek, selama tidak terjadi lonjakan produksi yang signifikan maupun pelemahan permintaan global.

Sementara itu, nilai ekspor produk sawit Indonesia sepanjang Januari-April 2026 turut meningkat menjadi US$13,04 miliar, naik 20,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$10,82 miliar, didorong oleh kenaikan volume ekspor dan membaiknya harga rata-rata minyak sawit dunia. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam