Batik Sawit Mulai Gunakan Bahan Baku Ramah Lingkungan
Apical Group memperkenalkan minyak mentah ke malam (wax) berbasis minyak sawit bersertifikat berkelanjutan. (Internet)
SAWITNEWS.CO - Tak sekadar menjadi salah satu warisan leluhur yang diakui dunia, batik pun kini mulai menggunakan bahan baku ramah lingkungan, dengan mengganti malam batik berbasis parafin yang terbuat dari minyak mentah ke malam (wax) berbasis minyak sawit bersertifikat berkelanjutan, didukung Apical group.
Membuat lilin batik berbasis sawit memang bukanlah gagasan baru. Lima tahun lalu, bahkan beberapa institusi telah mencoba, namun gagal menemukan formula yang tepat. Namun, kegagalan itu tidak menyurutkan semangat inovasi.
“Kami mencoba mengurangi ketergantungan pada bahan baku berbasis minyak fosil. Sebelumnya, para perajin batik menggunakan lilin parafin yang berasal dari minyak bumi. Setelah mitra perajin kami yakni FPKBL melakukan berbagai uji coba, akhirnya berhasil menemukan formula yang cocok dengan karakteristik lilin batik. Awalnya, kandungan stearin berbasis sawit hanya menggantikan 10% parafin, tetapi kini sudah mencapai 55-60%,” ungkap Prama Yudha Amdan, Head of Corporate Communications Apical Group seperti dilansir infoSAWIT, beberapa waktu lalu.
Peningkatan komposisi stearin berbasis sawit dalam lilin batik ini memberikan dampak positif bagi lingkungan dan industri batik. Penggunaan bahan baku yang lebih berkelanjutan berpotensi mengurangi jejak karbon serta mendukung industri batik dalam menjaga tradisi dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Apical Group sendiri berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan inovasi ini. Pendampingan dan dukungan dari awal sudah dilakukan, dan langkah awal sudah menunjukkan hasil yang menjanjikan. “Jika kita bisa memperbanyak produksi dan memperluas jangkauan penggunaannya, mengapa tidak? Ini bisa menjadi solusi bagi para perajin batik untuk mendapatkan bahan baku yang lebih berkelanjutan,” tambah Prama.
Harapan ke depan, lilin batik berbasis sawit tidak hanya menjadi alternatif, tetapi juga standar baru dalam industri batik yang lebih berkelanjutan. “Kami ingin batik sawit ini menjadi sesuatu yang potensial, baik dari segi warna, ramah lingkungan, maupun bagi pekerja yang terlibat di dalamnya. Ini adalah langkah menuju norma baru dalam industri batik,” tutup Prama. (FSY/SP)












