Temuan Mengejutkan

Mahasiswa UI Sulap Limbah Sawit Jadi Sumber Logam Bernilai Tinggi

News Jumat, 12 Juni 2026 - 13:39 WIB
Mahasiswa UI Sulap Limbah Sawit Jadi Sumber Logam Bernilai Tinggi

Mahasiswa FTUI temukan metode mengubah tandan kosong kelapa sawit dan residu bauksit menjadi sumber ekstraksi skandium. (Dok FTUI)

SAWITNEWS.CO – Limbah industri yang selama ini dianggap tidak bernilai, kini justru membuka peluang ekonomi baru bernilai tinggi.

Mahasiswa Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) berhasil menemukan metode inovatif untuk mengubah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan residu bauksit (red mud) menjadi sumber ekstraksi skandium, salah satu logam tanah jarang bernilai sangat tinggi di pasar global.

Inovasi ini tidak hanya menjawab persoalan limbah industri, tetapi juga membuka potensi besar Indonesia dalam rantai pasok material strategis dunia, khususnya untuk industri teknologi tinggi seperti dirgantara, energi terbarukan, hingga manufaktur canggih.


Dalam riset tersebut, TKKS yang selama ini hanya menjadi limbah perkebunan kelapa sawit dimanfaatkan sebagai reduktor ramah lingkungan dalam proses ekstraksi skandium dari red mud, residu industri pengolahan bauksit.

Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibanding metode konvensional yang cenderung menghasilkan emisi tinggi dan limbah tambahan.

Tim peneliti FTUI yang terdiri dari Josafat Pasaribu, Benaya Obednego Sirait, dan Brillian Mozza mengembangkan pendekatan bernama C.L.E.A.N (Circular, Low-emission, Efficient, Affordable, and Natural) untuk memastikan proses ekstraksi berjalan efisien sekaligus ramah lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat efisiensi ekstraksi skandium mencapai 99,3 persen, angka yang tergolong sangat tinggi dalam proses metalurgi ekstraktif.

Skandium dikenal sebagai salah satu logam tanah jarang dengan nilai ekonomi tinggi dan aplikasi strategis. Material ini digunakan dalam berbagai industri mutakhir, termasuk paduan aluminium untuk pesawat terbang, teknologi baterai generasi baru, hingga peralatan energi bersih.


Kelangkaannya di alam membuat harga skandium berada di level premium, sehingga setiap inovasi yang mampu mengekstraksinya secara efisien menjadi sangat penting bagi industri global.

Dengan temuan ini, limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai justru berpotensi menjadi sumber bahan baku industri bernilai tinggi.

Selain memanfaatkan TKKS, penelitian ini juga menyoroti potensi red mud atau limbah dari pengolahan bauksit yang selama ini menjadi tantangan lingkungan besar.

Dalam pengembangan lain, red mud bahkan dapat diolah menjadi material geopolimer ramah lingkungan dengan kekuatan tekan yang kompetitif dibandingkan semen konvensional.

Selain itu, material ini juga dapat dimanfaatkan untuk menyerap emisi gas sulfur dioksida (SO?), sehingga memiliki fungsi ganda dalam industri hijau.

Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, menilai inovasi ini sebagai bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi untuk tantangan lingkungan dan industri masa depan.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan dan masa depan industri hijau,” ujarnya.

Pendekatan ini sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber daya baru yang memiliki nilai tambah tinggi.

Temuan ini menjadi semakin relevan karena Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah dengan produksi bauksit dan kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Data menunjukkan, satu fasilitas pengolahan alumina di wilayah tersebut dapat menghasilkan ratusan ribu ton red mud setiap tahun. Sementara itu, jutaan hektare perkebunan sawit di provinsi ini juga menghasilkan TKKS dalam jumlah besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Kombinasi dua sumber daya ini menjadikan Kalimantan Barat berpotensi menjadi pusat pengembangan industri hijau berbasis limbah.

Penelitian mahasiswa FTUI ini membuka perspektif baru bahwa limbah industri bukan akhir dari siklus produksi, melainkan awal dari peluang ekonomi baru.

Dengan efisiensi tinggi, pendekatan ramah lingkungan, serta potensi skala industri yang besar, inovasi ini dinilai dapat menjadi salah satu terobosan penting Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar material strategis global.

Jika dikembangkan lebih lanjut, limbah sawit dan bauksit bukan hanya sekadar masalah lingkungan, tetapi bisa berubah menjadi “tambang baru” logam super mahal dunia. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam