Solusi di Tengah Krisis Pupuk

Petani Rokan Hulu Ubah Limbah Sawit Jadi Biochar

Daerah Jumat, 20 Juni 2025 - 20:25 WIB
Petani Rokan Hulu Ubah Limbah Sawit Jadi Biochar

Aspekpir melakukan pelatihan pembuatan biochar yang digelar di Desa Bono Tapung, Rokan Hulu. (Foto Istimewa)

SAWITNEWS.CO – Di tengah naiknya harga pupuk dan tantangan keberlanjutan dalam sektor perkebunan, sekelompok petani sawit di Rokan Hulu, Riau, mencoba peruntungan dari hal yang selama ini dianggap limbah: tandan kosong kelapa sawit (tankos). Melalui pelatihan pembuatan biochar yang digelar di Desa Bono Tapung, Kecamatan Tandun, Selasa, para petani menemukan cara baru untuk mengelola kebun sekaligus membuka peluang ekonomi berbabis limbah.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) dan didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Lebih dari 100 petani dari lima desa—Bono Tapung, Dayo, Kumain, Tapung Jaya, dan Boncah Kusuma—mengikuti praktik langsung mengubah tankos menjadi biochar, sebuah bahan pembenah tanah yang juga dapat digunakan sebagai pupuk organik.

Menurut Setiyono dari Aspekpir, pelatihan ini bukan hanya ajang transfer pengetahuan, tetapi juga upaya membangun ekonomi kerakyatan berbasis limbah. “Biochar bisa menjadi produk UKMK (Usaha Kecil Menengah dan Koperasi) yang bernilai jual. Petani tak hanya menghemat biaya pupuk, tapi juga bisa menjual biochar ke sesama petani,” ujarnya dalam sambutan di aula Kantor Desa Bono Tapung.


Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya digelar di Kabupaten Kampar. Rokan Hulu menjadi salah satu dari hanya tiga kabupaten di Riau yang terpilih menjadi lokasi pelatihan, menandakan tingginya potensi dan komitmen daerah ini dalam mendorong inovasi pertanian.

Kepala Desa Bono Tapung, Riyanto, menyambut baik inisiatif ini. Ia menilai bahwa pelatihan semacam ini memberi solusi nyata bagi petani yang kian terbebani oleh tingginya harga pupuk kimia. “Dengan biochar, kita bisa punya pupuk organik dari limbah yang sebelumnya tidak terpakai. Ini sangat membantu petani,” tuturnya, Kamis (19/6/2025).

Tankos, yang selama ini hanya ditumpuk di pabrik atau dibuang begitu saja, sejatinya merupakan sumber daya potensial. Di Rokan Hulu, terdapat 49 pabrik kelapa sawit (PKS) yang setiap harinya menghasilkan tankos dalam jumlah besar. Jika dikelola dengan benar, limbah padat ini bisa menjadi bahan utama pupuk organik sekaligus solusi pengelolaan limbah sawit yang lebih berkelanjutan.

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Rohul, CH Agung Nugroho, menegaskan bahwa inisiatif Aspekpir ini merupakan terobosan penting dalam mendukung kelapa sawit berkelanjutan. “Kegiatan ini meningkatkan wawasan dan kapasitas SDM petani. Biochar sangat mudah dibuat karena bahan bakunya melimpah. Kita dorong agar pelatihan seperti ini menjangkau desa-desa lain,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Divisi UKMK BPDP, Helmi Muhansah, yang hadir secara virtual. Ia berharap pelatihan ini tak berhenti di praktik saja, tapi benar-benar diterapkan di kebun petani dan bahkan bisa menghasilkan produk siap jual. “Kalau petani bisa memproduksi biochar dalam skala UKMK, itu akan menjadi lompatan besar dalam pemberdayaan ekonomi lokal,” ujarnya.


Langkah Aspekpir ini juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang tengah menggencarkan program huluisasi, yaitu peningkatan kapasitas di sektor hulu kelapa sawit. Menurut Helmi, fokus pada sektor hulu sangat penting agar pasokan tandan buah segar (TBS) tetap terjaga dan mendukung program hilirisasi industri sawit.

“Huluisasi saat ini menjadi perhatian pemerintah karena produktivitas kebun rakyat harus terus ditingkatkan. Jika tidak, industri hilir sawit juga akan terdampak,” tegasnya.

Melalui pelatihan pembuatan biochar, petani Rokan Hulu menunjukkan bahwa inovasi tidak harus datang dari teknologi tinggi atau investasi besar. Cukup dengan memanfaatkan potensi lokal—seperti limbah tankos—dan dukungan dari lembaga seperti BPDP serta organisasi petani, langkah menuju sawit berkelanjutan bisa dimulai dari desa.

Kegiatan ini juga membuka jalan bagi pengembangan usaha mikro berbasis pertanian, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

Bagi Riyanto dan warga Desa Bono Tapung, pelatihan ini bukan sekadar transfer teknologi, melainkan benih perubahan. “Kami ingin warga tidak hanya paham cara membuat biochar, tapi juga menjadikannya sebagai bagian dari cara hidup bertani yang lebih bijak dan mandiri,” pungkasnya. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam