Hambatan Non-Tarif

Ekspor Sawit ke Eropa Menurun, GAPKI Desak Pemerintah Siasati Aturan EUDR

Internasional Senin, 14 Juli 2025 - 21:45 WIB
Ekspor Sawit ke Eropa Menurun, GAPKI Desak Pemerintah Siasati Aturan EUDR

Ketua umum GAPKI, Eddy Martono. (Dok GAPKI)

SAWITNEWS.CO – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menjelaskan bahwa kesepakatan perdagangan bebas Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) belum tentu akan langsung mendongkrak ekspor sawit nasional jika hambatan non-tarif seperti EU Deforestation Regulation (EUDR) tak segera diatasi.

Eddy mengungkapkan, EUDR mensyaratkan ketelusuran dan uji tuntas (due diligence) yang rumit dan mahal, apalagi Indonesia diklasifikasikan sebagai negara berisiko menengah hingga tinggi.

“Kalau sudah masuk high risk country, 9% ekspor harus diperiksa ketat. Biaya compliance-nya besar,” katanya dalam diskusi yang ditayangkan CNBC Indonesia, Senin (14/7/2025).


Ironisnya, meski tarif bisa ditekan hingga nol persen melalui IEU-CEPA, beban regulasi non-tarif tetap mengancam daya saing. “Percuma tarif nol, tapi non-tarif barrier tetap besar,” ujar Eddy.

GAPKI juga menyoroti langkah Malaysia yang lebih proaktif. Negeri jiran itu telah mendefinisikan sawit sebagai tanaman hutan, memungkinkan penggunaannya dalam program reboisasi. Sementara Indonesia, menurut Eddy, sempat mencoba kebijakan serupa di masa Menteri Zulkifli Hasan, namun dicabut hanya dua minggu kemudian.

Dari sisi ekspor, tren ke Eropa terus menurun. Jika pada 2018 mencapai 5,7 juta ton, angka itu turun drastis menjadi 3,3 juta ton pada 2024. Sebaliknya, ekspor ke Amerika Serikat justru meningkat.

GAPKI berharap pemerintah segera merespons dengan kebijakan pendukung agar ekspor sawit tak semakin ditekan oleh aturan Eropa. “Kami ingin IEU-CEPA tidak cuma jadi cerita manis di atas kertas,” tegas Eddy. (MNA/SP)


Muthia NA
Editor :FA Syam