Implementasi BBM Sawit B40

Kementrian ESDM: Kebutuhan CPO Kian Banyak

Nasional Senin, 24 Februari 2025 - 08:52 WIB
Kementrian ESDM: Kebutuhan CPO Kian Banyak

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM RI Ir Edi Wibowo MT menjadi narasumber di Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia. (Dok Majalah Sawit Indonesia)

SAWITNEWS.CO – Inovasi yang terus berkembang, terutama di bidang bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari sawit, membuat industri sawit kian tumbuh. Direktur Bioenergi Kementerian ESDM RI Ir Edi Wibowo MT menyebut kebutuhan CPO ke depan akan terus bertambah untuk program biodiesel yang terus ditingkatkan persentasenya. Untuk program B40 tahun 2025. Diperkirakan mencapai 15,6 juta ton kebutuhan CPO.

Program B40 adalah program pemerintah untuk menerapkan BBM jenis solar dengan campuran bahan bakar nabati biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 40 persen yang mulai diterapkan 1 Januari 2025 lalu.

“Setiap meningkatkan presentasenya ini pasti ada kajian-kajian, misalnya uji jalan, uji mesin dan lain sebagainya. Sekarang pun  kami sudah tes untuk B50, supaya kita siap ketika nanti akan diimplemenetasikan,” jelas Edi saat menjadi narasumber Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia didukung BPDP serta GIMNI dan APROBI, Sabtu (22/2/2025).


Direncanakan, 1 Maret 2025, dikatakan Edi, sudah implementasi penuh B40. Selain itu, hasil uji bahan bakar nabati untuk mesin diesel, alat berat, alat mesin pertanian berjalan dengan baik. Lalu juga segera diterbitkan Instruksi Kerja Teknis B40 pada Sektor Non Otomotif (Alat Berat Pertambangan, Kereta Api, Pembangkit Listrik, Alat Mesin Pertanian, dan Angkutan Laut)

Lebih jauh, dia juga bahwa penerapan biodiesel saat ini relatif lancar baik dari sisi pasokan maupun penyaluran. Dia mencontohkan dari sisi kualitas, saat ini sudah jarang terdengar isu terkait teknis seperti mesin yang cepat rusak.

“Isu teknis filter bahan bakar, ini pas awal awal aja isunya. Setelah saat ini tidak lagi isu yang sering muncul itu,” ungkapnya.

Ternyata, manfaat biodieselnya juga signifikan bagi negara dengan setidaknya menghemat devisa negara sebesar US$9,33 miliar atau sekitar Rp149,28 triliun (asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS) sepanjang 2024. Dia memproyeksikan pada B40 setidaknya devisa yang dapat dihemat sebesar Rp147,5 triliun, pengurangan emisi sebesar 41,46 juta ton CO2 ekuivalen, dan peningkatan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,98 triliun.

 “Ke depannya B50 kami masih lakukan kajian, mudah-mudahan bagaimana aspek kecukupan CPO-nya. Karena untuk B40 saja menyedot sekitar 28 persen CPO yang digunakan,” ujarnya. (FSY/SP)


FA Syam
Editor :MNA