Pendapat Pengamat

Agrinas Jadi Momentum Kebangkitan Negara di Sektor Perkebunan

Nasional Jumat, 28 Maret 2025 - 09:54 WIB
Agrinas Jadi Momentum Kebangkitan Negara di Sektor Perkebunan

Agrinas Palma Nusantara yang khusus mengurusi sawit (Foto Internet)

SAWITNEWS.CO – Lahirnya BUMN baru Agrinas Palma Nusantara yang khusus mengurusi sawit, mendapatkan tanggapan beberapa pihak. Kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang melahirkan Agrinas haruslah diikuti dengan berbagai inisiatif bisnis yang produktif. Strategi ini diambil agar negara memiliki kekuatan pendorong ekonomi nasional.

“Sektor perkebunan di Indonesia memiliki potensi besar sebagai pendorong perekonomian nasional, karena memiliki multiplier effect yang besar. Bahkan di era kolonial Belanda, perkebunan menjadi kekuatan modernisasi perekonomian Hindia Belanda (Indonesia) dan sekaligus menghasilkan jutaan gulden untuk menyelamatkan krisis ekonomi Negara Belanda akibat perang dunia pertama,” ujar Pengamat Perkebunan Dr Syaiful Bahari, SH MH seperti dilansir majalahsawitindonesia.

Dikatakan Syaiful, ketika Indonesia merdeka tetapi sektor ekonomi yang dinamakan “emas hijau” oleh pemerintah ternyata tidak dimanfaatkan dan tidak dikelola secara benar serta maksimal hingga sekarang. Akibatnya, banyak tanah-tanah perkebunan yang dikelola BUMN terlantar tidak produktif, dan dikelola ala kadarnya.


Menurut Dosen Universitas Sains Indonesia ini, sektor perkebunan negara sampai saat ini dikelola seperti model perkebunan kolonial Belanda, padahal zamannya sudah berubah jauh. Perkebunan negara hanya mewarisi kultur bisnis yang feodalistik dan birokratik, akibatnya ibarat rumah tua (lahan kebun) tanpa perawatan yang baik, maka tinggal menunggu ambruknya saja.

“Demikian juga, usaha perkebunan negara lebih banyak mempertahankan sebagai penyedia bahan baku semata, terisolir dari dunia industri modern (enclave). Akibatnya kalah bersaing dengan bahan baku perkebunan dan bahkan sudah bahan siap industri yang dikembangkan negara-negara Asia, Amerika Latin, dan Afrika,” tambahnya.

Gagasan pembentukan Agrinas, dikatakan Syaiful, termasuk Agrinas Palma, di era Presiden Prabowo, harus dijadikan momentum kebangkitan Perkebunan Nusantara yang di Abad 19 pernah jaya. Bayangkan, Indonesia di era itu dikenal sebagai produsen tebu dunia, bahkan mempunyai pusat penelitian dan laboratorium gula pertama di dunia yang bernama Proefstation Oost Java (POJ) didirikan Pasuruan pada 9 Juli 1887 yang kini menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Namun, sayangnya pada hari ini justru Indonesia menjadi importir gula.

“Demikian juga dengan komoditi lain, seperti karet, yang hingga kini terpuruk belum bangkit kembali. Padahal Indonesia di era 70-an termasuk eksportir karet untuk industri otomotif dunia. Tapi saat ini, Indonesia termasuk negara importir terbesar ban di dunia,” kata Syaiful.

Terakhir, perkebunan sawit. Menurutnya, Di tengah swasta sudah berkembang pesat membangun ekosistem perkebunan kelapa sawit, dari hulu sampai industri hilirnya. Perkebunan negara masih berjalan tertatih-tatih.


“Sehingga, wajar saja kalau negara sampai hari ini tidak mampu menguasai industri kelapa sawit dan produk turunannya. Sehingga untuk urusan minyak goreng saja belum mampu mengendalikan supply dan harga. Karena di sektor hulunya sendiri masih berantakan,” urai Dewan Pakar Apkasindo ini.

Menurut Syaiful, kehadiran Agrinas, tidak boleh lagi mengulangi cara kerja perkebunan negara, yang hanya berpuas diri memiliki jutaan hektar lahan perkebunan, tetapi tidak produktif. Eksistensi sektor perkebunan sekarang ini jika tidak dibangun ekosistem industri modern dan rantai pasarnya secara efisien, maka dia hanya hamparan tanah yang tidak bernilai secara ekonomis.

“Oleh karena itu, di sinilah momentumnya perkebunan negara melalui Agrinas harus dapat menunjukkan sebagai sektor usaha negara di industri perkebunan modern, dan menjadi roda pendorong perekonomian nasional,” pungkasnya menutup pembicaraan. (FSY/SP)

FA Syam
Editor :MNA