Ironi Negeri Sawit

Kecam Kelangkaan Minyak Goreng, Presiden Prabowo: Bukan Ekonomi Konstitusional, Ini Serakahnomics!

Nasional Kamis, 24 Juli 2025 - 20:39 WIB
Kecam Kelangkaan Minyak Goreng, Presiden Prabowo: Bukan Ekonomi Konstitusional, Ini Serakahnomics!

Presiden RI, Prabowo Subianto. (Dok Sekretariat Presiden)

SAWITNEWS.CO – Presiden RI Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap kelangkaan minyak goreng yang terjadi di Indonesia, negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Dalam pidatonya di Harlah ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC Senayan, Rabu (23/7/2025), Prabowo menyebut situasi tersebut sebagai ironi dan bentuk ketidakadilan ekonomi yang mencederai konstitusi.

“Saya sampai berpikir, ini mazhab ekonomi apa? Negara produsen sawit terbesar, tapi rakyatnya kesulitan cari minyak goreng. Ini bukan neolib, bukan pasar bebas. Ini serakahnomics. Ya, serakahnomics!” tegas Prabowo, disambut sorak tepuk tangan hadirin.

Presiden menekankan bahwa konstitusi sudah jelas mengatur lewat Pasal 33 UUD 1945 bahwa cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.


“Pasal 33 itu sederhana tapi sangat mendasar. Ekonomi kita harus berdasarkan asas kekeluargaan. Bukan dikuasai oleh segelintir orang yang serakah,” ujarnya.

Prabowo juga menyinggung komoditas strategis lainnya seperti beras dan jagung, yang menurutnya juga rentan dimainkan pasar dan pihak tertentu yang hanya mengejar keuntungan pribadi.

“Minyak goreng, beras, jagung, semua itu menyangkut perut rakyat. Tidak boleh dijadikan alat permainan bisnis rakus,” katanya.

Pernyataan keras ini mempertegas komitmen Presiden dalam melakukan reformasi besar-besaran terhadap tata kelola sektor strategis, termasuk industri minyak goreng dan kelapa sawit. Pemerintah, kata Prabowo, tidak akan tinggal diam terhadap praktik yang merugikan rakyat.

Sikap tegas Presiden ini menjadi sinyal kuat bahwa pembenahan rantai distribusi dan pengendalian harga bahan pokok akan menjadi salah satu fokus utama pemerintahannya. (MNA/SP)


Muthia NA
Editor :FA Syam