Inovasi RPMO

Terobosan Baru, FMIPA UI Hadirkan Minyak Sawit Cegah Stunting

Nasional Jumat, 29 Agustus 2025 - 23:01 WIB
Terobosan Baru, FMIPA UI Hadirkan Minyak Sawit Cegah Stunting

FMIPA UI kenalkan inovasi minyak sawit non-CPO yang sehat dan ramah lingkungan untuk cegah stunting. (Dok Humas UI)

SAWITNEWS.CO – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) memperkenalkan inovasi terbaru bernama Refined Palm Mono-Olein (RPMO), minyak sawit non-CPO yang dikembangkan sebagai pangan fungsional sehat dan ramah lingkungan. Inovasi ini menjadi sorotan dalam ajang Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha, ITB, Bandung, 7–9 Agustus 2025.

RPMO merupakan hasil riset Prof Dr rer nat Budiawan, guru besar FMIPA UI, yang menyoroti potensi minyak sawit sebagai sumber gizi mikro untuk mencegah tengkes (stunting). Minyak ini diperkaya dengan asam lemak tak jenuh, yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan otak, sistem saraf, serta metabolisme tubuh anak.

“RPMO tidak hanya lebih sehat karena kandungan asam lemak tak jenuhnya tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai pembawa (carrier) vitamin dan mineral penting yang dibutuhkan anak untuk tumbuh optimal. Dengan demikian, minyak ini bisa membantu mengurangi risiko stunting,” jelas Prof Budiawan.


Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 menunjukkan prevalensi stunting nasional masih berada di angka 21,5%, jauh di atas standar WHO yang merekomendasikan kurang dari 14%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa 1 dari 5 anak Indonesia mengalami hambatan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.

Salah satu penyebab utamanya adalah asupan gizi mikro yang tidak mencukupi, termasuk kekurangan vitamin A, D, E, K, serta asam lemak esensial. RPMO hadir sebagai solusi dengan cara memperkaya pola konsumsi rumah tangga melalui minyak sehat yang bisa digunakan sehari-hari.

“Minyak sawit pada umumnya dikenal sebagai sumber kalori, tetapi RPMO kami kembangkan agar lebih bernilai fungsional, bukan sekadar bahan masak. Dengan mengonsumsinya secara rutin, anak-anak bisa mendapatkan asupan gizi mikro tambahan untuk mendukung pertumbuhan,” ungkapnya.

Selain manfaat kesehatan, RPMO dirancang dengan teknologi produksi yang minim limbah dan hemat energi. Proses pemurniannya menghasilkan emisi rendah dan meminimalkan residu yang biasanya menjadi masalah pada industri minyak sawit konvensional.

Dengan demikian, RPMO bukan hanya menjawab persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari solusi pangan berkelanjutan yang mendukung agenda pembangunan hijau nasional.


Kehadiran RPMO juga memperkuat gagasan bahwa sawit Indonesia tidak harus berhenti pada produk CPO (Crude Palm Oil), melainkan bisa diolah lebih jauh menjadi produk bernilai tambah tinggi di sektor pangan fungsional.

“RPMO adalah bukti bahwa riset bisa membuka jalan hilirisasi sawit ke arah yang lebih sehat dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. Jika dikembangkan massal, minyak ini bisa menjadi alternatif minyak goreng sehat khas Indonesia,” tambahnya. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam