Strategi Cerdas Kurangi Impor

Integrasi Sawit-Sapi Disebut Bisa Dongkrak Produksi Daging Nasional

Nasional Rabu, 08 April 2026 - 18:50 WIB
Integrasi Sawit-Sapi Disebut Bisa Dongkrak Produksi Daging Nasional

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. (Dok Bappenas)

SAWITNEWS.CO – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan integrasi sektor perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya domestik.

Pernyataan itu disampaikan dalam The 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026 di Pekanbaru, Riau, Rabu (8/4).

Menurut Rachmat, pendekatan lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pangan yang kian kompleks, terutama di tengah tekanan global.


“Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Yang kita butuhkan adalah cara mengelolanya secara lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Saat ini, kebutuhan daging sapi nasional masih jauh di atas produksi domestik. Data pemerintah menunjukkan defisit daging mencapai sekitar 52 persen, sehingga Indonesia masih bergantung pada impor untuk menutup kekurangan.

Rachmat menekankan bahwa integrasi sawit-sapi mampu meningkatkan populasi sapi domestik dengan cepat sekaligus menekan biaya produksi, salah satu kendala utama bagi peternak lokal.

Integrasi ini memanfaatkan luas perkebunan sawit yang mencapai jutaan hektare. Limbah sawit seperti pelepah, bungkil inti, dan limbah padat lainnya dapat diolah menjadi pakan alternatif, sementara lahan di areal perkebunan digunakan untuk penggembalaan sapi.

“Ini menciptakan efisiensi yang signifikan dan mendukung swasembada daging secara berkelanjutan,” kata Rachmat.


Lebih jauh, integrasi sawit-sapi juga mendukung pembangunan ekonomi inklusif. Perusahaan perkebunan dapat menjalin kemitraan dengan peternak lokal untuk mengembangkan usaha berbasis kawasan. Model ini memungkinkan peternak terlibat langsung dalam rantai produksi, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Selain aspek ekonomi, sistem integrasi memberi dampak ekologis positif. Sapi membantu pengendalian gulma secara alami dan meningkatkan kesuburan tanah melalui siklus nutrisi dari kotoran ternak.

Pendekatan ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, di mana limbah satu sektor menjadi input bagi sektor lain, menciptakan siklus ekonomi yang ramah lingkungan.

Dalam kerangka perencanaan nasional, Bappenas menempatkan penguatan sektor pangan sebagai prioritas utama. Rachmat menekankan bahwa target penambahan populasi sapi hingga satu juta ekor pada 2029 realistis jika integrasi sawit-sapi dijalankan optimal.

“Kalau kita kelola dengan serius, ini bisa menjadi game changer bagi sektor pangan nasional,” katanya.

Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam mendukung implementasi program integrasi. Dukungan berupa regulasi, fasilitasi lahan, dan pendampingan teknis dinilai krusial untuk keberhasilan di lapangan.

Rachmat menegaskan, koordinasi lintas kementerian dan lembaga harus diperkuat agar kebijakan yang mendukung integrasi berjalan efektif dan tidak tumpang tindih.

Konferensi ICOP 2026 menjadi ajang strategis bagi akademisi, pelaku industri, dan pemerintah untuk membahas pengembangan sistem integrasi sapi-sawit secara komprehensif. Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model implementasi yang bisa diterapkan di berbagai sentra perkebunan, khususnya di Riau.

Rachmat menegaskan, hasil konferensi harus segera diterjemahkan menjadi aksi di lapangan. Ia menekankan bahwa perencanaan tanpa implementasi konsisten tidak akan mampu menekan defisit daging nasional.

“Yang kita butuhkan sekarang adalah aksi. Perencanaan harus diikuti dengan implementasi yang konsisten,” ujarnya.

Dengan strategi integrasi ini, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan produksi daging domestik secara signifikan, menurunkan ketergantungan pada impor, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan keberlanjutan lingkungan.

Langkah ini juga menjadi fondasi bagi ketahanan pangan jangka panjang, menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian. (MNA/SP)

Muthia NA
Editor :FA Syam