Banyak Kebun Tebu RI Tak Produktif, Mentan Siapkan Revitalisasi 300 Ribu Hektare
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. (Dok Kementerian Pertanian)
SAWITNEWS.CO – Pemerintah bergerak cepat menata ulang industri gula nasional setelah temuan mengejutkan, sekitar 80 persen kebun tebu dinilai tak lagi produktif.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut, berdasarkan evaluasi 2025 atas arahan Presiden Prabowo Subianto, sekitar 70–80 persen tanaman tebu di Indonesia sudah memasuki usia tua dan tak lagi optimal menghasilkan rendemen gula.
Kondisi itu disebut menjadi salah satu “bocor halus” yang membuat produksi nasional jalan di tempat, sementara kebutuhan terus menanjak seperti gelombang yang tak sabar menepi.
“Lebih dari 500 ribu hektare itu tanaman lama. Kalau dibiarkan, produktivitas tidak akan naik,” ujar Amran.
Pemerintah kini meluncurkan program bongkar ratoon atau peremajaan tebu secara masif. Targetnya tidak main-main: 300.000 hektare lahan akan direvitalisasi dalam tiga tahun ke depan.
Skemanya dibagi bertahap, masing-masing 100.000 hektare per tahun. Ladang-ladang tua yang selama ini “hidup segan, mati tak mau” akan diganti dengan bibit baru yang diklaim lebih genjah dan produktif.
Di balik rencana besar itu, ada angka yang ikut dipasang di meja perhitungan: Rp1,7 triliun disiapkan untuk tahun anggaran 2025. Dana ini akan mengalir sebagai subsidi pembongkaran dan penanaman ulang, seperti menyiram ulang akar harapan yang sempat kering.
Masalah utama yang disorot pemerintah bukan sekadar luas lahan, tapi usia tanaman yang sudah terlalu tua.
Akibatnya, produktivitas gula nasional tertahan. Petani pun disebut tidak menikmati keuntungan optimal karena hasil panen yang terus menurun, sementara biaya produksi tak ikut bersimpati.
“Kalau tanaman sudah tua, tidak mungkin produksinya bisa naik. Petani jadi tidak untung,” kata Amran menegaskan.
Program ini menjadi bagian dari ambisi besar pemerintah untuk mengejar swasembada gula nasional. Setelah bertahun-tahun bergantung pada impor, sektor gula kini didorong masuk ke fase baru yaitu modernisasi hulu.
Namun jalan menuju target itu tak mulus. Di banyak daerah, bongkar ratoon berarti juga jeda produksi sementara, yang bisa menekan pasokan jangka pendek sebelum hasil peremajaan benar-benar terasa.
Meski begitu, pemerintah tetap optimistis. Dengan peremajaan besar-besaran ini, produksi gula diharapkan naik signifikan dan kesejahteraan petani ikut terdongkrak. (MNA/SP)













