RI Jadi Raja Sawit Dunia, Kuasai Lebih dari 60% Pasar Global
Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman. (Dok Humas Kementan)
SAWITNEWS.CO – Indonesia makin percaya diri di panggung global. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia kini menguasai lebih dari 60% pasar minyak sawit dunia, sebuah posisi yang bikin Tanah Air jadi pemain kunci dalam rantai pasok global.
Pernyataan itu disampaikan seiring meningkatnya kinerja ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya yang terus menanjak di awal 2026.
Menurut Amran, kekuatan Indonesia bukan cuma di bahan mentah, tapi juga di strategi hilirisasi yang mulai memberikan dampak besar ke industri nasional.
“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60% pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan,” ujar Amran dalam keterangan resmi, Sabtu (18/4).
Pernyataan ini menegaskan posisi Indonesia yang bukan lagi sekadar eksportir bahan mentah, tapi sudah bergerak ke arah industri bernilai tambah tinggi.
Pemerintah mendorong penguatan ekosistem sawit dari hulu hingga hilir, mulai dari kebun, pabrik, sampai akses pasar ekspor.
Dari sisi data, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Februari 2026 mencapai US$4,69 miliar. Angka ini naik 26,40% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya US$3,71 miliar.
Tak hanya nilai, volume ekspor juga ikut melonjak dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton. Kenaikan ini menunjukkan permintaan global terhadap produk sawit Indonesia masih sangat kuat, meski di tengah dinamika ekonomi dunia.
Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi CPO sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton atau naik 7,26% dibanding tahun sebelumnya.
Total produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) bahkan menyentuh 56,55 juta ton. Dari sisi ekspor, sepanjang 2025 Indonesia berhasil mengirim 32,34 juta ton produk sawit ke berbagai negara dengan nilai mencapai US$35,87 miliar.
Ini naik 29,23% secara tahunan, memperkuat posisi Indonesia sebagai raksasa sawit dunia.
Namun di balik capaian besar ini, industri sawit juga dihadapkan pada tantangan. Gapki memperkirakan produksi CPO 2026 hanya tumbuh tipis di kisaran 1–2% akibat potensi El Nino dan meningkatnya konsumsi domestik, terutama untuk program biodiesel B40.
Sekretaris Jenderal GAPKI, Muhamad Hadi Sugeng Wahyudiono, menyebut kondisi ini bisa berdampak pada keseimbangan ekspor. Apalagi jika program biodiesel dinaikkan menjadi B50, volume ekspor diperkirakan bisa tertekan lebih jauh.
“Kalau B50 diterapkan, volume ekspor akan menurun,” katanya.
Meski begitu, pemerintah tetap optimistis industri sawit Indonesia masih akan tumbuh, walau dalam laju yang lebih moderat.
Harga CPO juga diperkirakan masih stabil tinggi di kisaran US$1.050–US$1.125 per ton dalam jangka pendek.
Dengan dominasi pasar global dan strategi hilirisasi yang terus diperkuat, Indonesia kini berada di posisi yang sangat strategis. Bukan cuma sebagai produsen, tapi juga penentu arah pasar minyak nabati dunia.
Dan seperti yang ditegaskan Mentan Amran, dunia saat ini memang tidak bisa lepas dari Indonesia dalam urusan sawit. (MNA/SP)













