Gulat Ketum DPP APKASINDO: Bentuklah Prodi Sarjana Terapan, Sawit Berkontribusi Terhadap Nasional
Dekan Fakultas Pertanian UIR Dr Fathurrahman SP Mscdan tim saat pertemuan dengan DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO). Ketua DPP APKASINDO mengusulkan buka prodi sarjana terapan perkebunan sawit setara D4. (Dok UIR)
SAWITNEWS.CO – Langkah strategis dilakukan Universitas Islam Riau (UIR). Seiring industri dan komoditas sawit kian membaik di Indonesia, sudah selayaknya perguruan tinggi seiring jalan. Untuk itu, UIR berencana mendirikan jurusan yang fokus sektor sawit, seperti Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan (TPTP) di Fakultas Pertanian.
Dekan Fakultas Pertanian UIR Dr Fathurrahman SP MSc mengakui bahwa pihaknya mengundang seluruh pakar sawit, termasuk Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Dr Gulat Manurung C.IMA, untuk memberikan saran terhadap jurusan baru yang akan dibentuk yaitu Prodi Teknologi Pangan Industri Halal, lalu Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan. Gayung bersambut, APKASINDO mengusulkan supaya dibentuk juga prodi sarjana terapan perkebunan sawit setara D4.
“Kami ucapkan terimakasih semua pihak yang telah hadir ke kampus UIR ini untuk memberikan saran dan masukan dalam rangka peyusunan pembukaan Program Studi atau Prodi baru ini,” ucap Fathurrahman.
Ketua Umum (Ketum) DPP APKASINDO, Dr Gulat Manurung, C.IMA menyampaikan bahwa petani sawit Indonesia sedang tidak baik baik saja, dia berharap tidak hanya petani saja yang melawan pihak-pihak yang akan memberikan persepsi buruk tentang sawit, tetapi harus bersama sama dengan pihak akademis.
Menurut Gulat, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2024 tercatat 4,95%, sementara produk domestik bruto pada sektor pertanian dan perkebunan tumbuh positif di 1,69%. Komoditas kelapa sawit menjadi salah satu motor penggerak pada kedua sektor tersebut.
Pada sisi ekspor, industri kelapa sawit juga merupakan salah satu penyumbang terbesar untuk ekspor non migas Indonesia. Menurut data Kementerian Perdagangan, hingga 2024 menunjukkan kinerja ekspor nonmigas sebesar USD181,14 milyar, dan untuk ekspor lemak dan minyak nabati mencapai USD14,43 milyar termasuk didalamnya minyak dari kelapa sawit.
“Artinya, jika sektor sawit terganggu maka ekonomi nasional juga akan terganggu. Sawit berkontribsi terhadap pendapatan nasional dan itu tidaklah kecil. Jadi ini bukan hanya tugas petani sawit tapi tugas kita semua,” ujar Gulat.
Lebih lanjut, dia mengajak semua untuk bangkit melawan pihak-pihak yang ingin mematikan sawit.
“Jika APKASINDO atau GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, red) yang menyuarakan, kurang keren. Akan tetapi kalau akademisi baru keren. Jangan sampai sawit dikelola dengan tidak benar,” harap Gulat.
Gulat juga menyarankan agar UIR menjadi universitas yang terdepan untuk di bidang sawit. Jadi masuklah dan ambil bagianlah pada program beasiswa sawit yang terdapat di program BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) sehingga menjadi terdepan dan bukalah fakultas yang fokus pada sawit.
“Kelak mahasiswa nya juga nanti jangan sekedar skripsi tapi juga disalurkan magang ke perusahaan-perusahaan sawit sehingga para mahasiswa-mahasiswinya bisa terjun langsung di sektor sawit,” harap Gulat. Dalam acara tersebut Gulat ditemani oleh Dr Eko Jaya Siallagan selaku pengurus APKASINDO Riau. (FSY/SP)













